Eksperimen Melalui Instagram: Mencari Warna Citra Diri

Beberapa waktu lalu, saya ikut sebuah webinar dari The Milk & Honey, VA Talk Chapter #4, bersama Bu Niken Ghaisani, yang bertajuk “Canva Starter Pack: Bekal Desain untuk VA Pemula.” Salah satu hal menarik yang dibahas adalah soal warna dalam branding. Topiknya bukan hal baru, tapi tetap bikin saya berpikir lebih dalam. Intinya, hanya dari warna saja sebuah brand bisa langsung dikenalin. Contohnya, warna birunya Bank BCA atau Bank Mandiri. Keduanya sama-sama pakai warna biru, tapi orang tetap bisa membedakannya karena branding warna mereka kuat banget.

Kadang sampai jadi bahan bercandaan. Misalnya, kalau mau kasih tahu lokasi yang presisi ke Abang Ojol, tinggal bilang, “Ruko yang rolling door-nya warna Biru BCA, ya, Bang!”. Hehehe.

Dari situ saya jadi kepikiran: kalau sebuah brand saja punya “warna” yang menjadi identitas, kenapa saya sebagai individu nggak punya juga? Saya pengen punya warna pribadi saya sendiri (@diniamurti). Jadi saya iseng coba mencari tahu warna apa yang paling merepresentasikan diri saya, dimulai dari menganalisis hal-hal yang paling dekat dan saya anggap paling “true” dan “genuine”.

Kalau ada yang nanya apa warna favorit saya, jujur saya suka bingung. Saya nggak punya warna spesifik yang benar-benar jadi favorit. Kalau warnanya bagus dan cocok, misalnya untuk pakaian, ya saya pakai saja, nggak harus warna tertentu. Tapi kalau harus jawab, saya biasanya bilang “merah”, karena saya penggemar Liverpool FC. Kalau besok saya jadi penggemarnya BTS, bisa jadi berubah jadi suka warna ungu. Kadang memang preferensi kita dipengaruhi oleh apa yang kita sukai, gemari, atau yang ada di sekeliling kita, bahkan kadang karena mood juga.

Lalu saya mulai kepikiran tentang cara menemukan “warna diri” ini. Saya akhirnya mutusin untuk mengambil sampel dari foto-foto di akun Instagram saya. Karena memang senang foto-foto, akun Instagram saya usianya juga sudah tahunan dan fotonya juga banyak. Artinya, ada banyak data buat dianalisis.

Tentu hasilnya nggak 100% akurat atau sepenuhnya mewakili diri saya, tapi saya percaya bahwa apa yang kita unggah secara nggak sadar berasal dari bagian terdalam diri kita. Ada karakteristik dari alam bawah sadar yang muncul ke permukaan, baik yang jelas maupun yang hanya berupa petunjuk-petunjuk kecil.

Setelah menyusun dataset visual dari seluruh foto dan mengunggahnya ke ChatGPT untuk dianalisis, saya merangkum proses dan hasilnya ke dalam dua bagian utama: metode yang saya gunakan dan output yang saya dapatkan. Ringkasannya saya tulis dalam tabel berikut:

Metodologi & Step-by-Step

BagianUraian Singkat
TujuanMenemukan “warna diri” dan identitas visual melalui analisis foto Instagram.
Pengumpulan Data• Total foto: 516
• Metode: Mass Capture (7×3 grid = 21 foto/capture)
• Total capture: ±25
Penyusunan Dataset Visual• Menyusun capture di PowerPoint (5 capture per slide)
• Menggabungkan tiap slide menjadi satu gambar besar (Paste Special → Picture)
• Hasil akhir: 5 slide visual yang mewakili seluruh feed
Analisis dengan ChatGPT• Mengunggah 5 slide PNG ke ChatGPT
• Meminta analisis: bio, pola visual, warna, editing, konsistensi estetika, hexcodes, font, positioning, niche
Penyusunan Hasil• Merapikan insight
• Mengelompokkan informasi
• Membuat: (1) Laporan Analisis Visual formal, (2) Mini Personal Brand Guideline

Output

KategoriHasil Ringkas
Persona Visual“Quiet observer of everyday life” — pengamat tenang yang menangkap momen kecil sehari-hari.
Mood & Gaya VisualTenang, dokumenter, humanis, sedikit nostalgik. Natural light, low saturation, soft contrast, subtle grain, banyak empty space.
Palet Warna• Forest Quiet Green (#3C5A3A)
• Warm Film Beige (#E7D8C4)
• Muted Olive (#8A9A5B)
• Sky Haze Blue (#A9C7DD)
• Rust Red (#B7412B)
Gaya EditingSaturation rendah, kontras lembut, tone filmic, light grain, candid framing.
Font PairingInter (clean, modern) — body text Spectral (editorial, poetic) — judul & highlight
Tagline Pilihan“Small scenes, quiet stories.”
“Everyday life, unperformed.”

Penutup

Dari eksperimen kecil-kecilan ini, walaupun sederhana, saya bisa dapat gambaran diri sendiri yang ternyata bisa muncul lewat hal-hal sepele seperti foto-foto yang di-upload ke Instagram. Seru juga melihat dan menganalisis pola yang selama ini nggak disadari, sulit diungkapkan, atau diartikulasikan. Kalau ada yang baca ini dan punya cara atau tool yang lebih oke buat analisis seperti ini, boleh banget di-share. Penggunaan AI juga bisa aja kurang tepat atau kurang presisi karena keterbatasan kapasitas memori dan nggak ada “sentuhan” manusia atau nyawanya, jadi anggap saja sebagai alat pembantu. Post ini just for fun yang sedikit serius, dan siapa tahu bisa bantu orang lain juga yang lagi nyari “warna diri”-nya.

Untuk proses lengkap, bisa merujuk ke dokumen PDF terlampir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *