Perspective · 06.08.26

Sehari Bersama Kapal & Museum di Jakarta Utara

Hari Minggu, 2 Agustus 2026 lalu, saya bersama suami dan kedua anak kami pergi ke Jakarta Utara untuk mengunjungi beberapa tempat. Ide perjalanan ini awalnya muncul karena saya ingin mengajak anak-anak hopping ke museum-museum terkenal yang ada di Jakarta.

Rencana awalnya cukup ambisius: mengunjungi enam museum sekaligus dalam satu hari, mulai dari Museum Nasional, Gedung Arsip Nasional, Candra Naya, Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, hingga Museum Bahari. Walaupun kami sudah mengunjungi Museum Nasional dua minggu sebelumnya, museum tersebut tetap saya masukkan kembali ke dalam itinerary karena pada kunjungan pertama rasanya belum puas. Waktu itu, kami harus terburu-buru beranjak ke tempat lain.

Saya kemudian mengutak-atik itinerary agar tetap padat, tetapi masih ramah anak. Urutan kunjungannya bahkan sempat saya balik. Sampai akhirnya, pada revisi terakhir sebelum berangkat, saya memutuskan untuk hanya berfokus pada tempat-tempat di Jakarta Utara. Saya juga menambahkan satu tujuan di luar museum karena tiba-tiba teringat pernah pergi ke sana ketika masih kuliah dan ingin sedikit bernostalgia.

Rencana final sebelum berangkat adalah:

  • Museum Bahari → Pelabuhan Sunda Kelapa → Museum Mandiri → Museum Bank Indonesia → Toko Merah

Namun, seperti biasa, keadaan di lapanganlah yang akhirnya menentukan. Kami harus menyesuaikan rencana dengan kondisi anak-anak dan stamina kami semua. Rute yang benar-benar terealisasi akhirnya hanya:

  • Museum Bahari → Pelabuhan Sunda Kelapa → Museum Mandiri

Walaupun hanya tiga tempat yang berhasil dikunjungi, perjalanan ini sudah cukup berkesan dan ternyata cukup ramah anak. Semoga lain kali kami bisa mengunjungi tempat-tempat lainnya.

Berangkat Pagi Yang Sempat Nyasar

Kami berangkat dari rumah pukul 07.30 WIB, meleset setengah jam dari rencana awal pukul 07.00. Seringnya, persiapan bepergian bersama anak-anak memang membutuhkan waktu lebih lama daripada perkiraan.

Perjalanan sempat sedikit tersendat karena kami lupa bahwa ada Car-Free-DayCar Free Day-an (baca: pasar tumpah) lokal di dekat rumah. Kami juga sempat salah jalan di tol karena keliru membaca percabangan di Google Maps. Akibatnya, kami harus keluar tol, memutar, lalu masuk kembali. Meskipun begitu, secara keseluruhan perjalanan pagi itu cukup lancar.

Sekitar pukul 08.30 WIB, kami tiba di area parkir Menara Syahbandar. Karena Museum Bahari dan Menara Syahbandar letaknya bersebelahan, berdasarkan informasi yang saya temukan di internet, pengunjung Museum Bahari yang membawa kendaraan pribadi bisa parkir di halaman Menara Syahbandar.

Namun, sebaiknya datang sejak pagi karena area parkirnya cukup kecil dan hanya bisa menampung beberapa mobil. Untungnya, ketika kami tiba, parkiran masih sepi. Baru ada satu mobil lain di sana. Sebelum turun dari mobil, tidak lupa oles-oles tabir surya alias sunscreen biar nggak terbakar kulitnya dan gosong.

Pintu Masuk & Halaman Parkir Menara Syahbandar (Sumber: Google Street View)

Miniatur Kapal di Museum Bahari

Setelah memarkirkan mobil, kami langsung berjalan menuju Museum Bahari. Harga tiket masuknya murah:

  • Dewasa: Rp5.000
  • Anak-anak/pelajar: Rp2.000

Karena anak kedua saya masih berusia tiga tahun, ia belum dikenakan biaya tiket.

Di dalam museum, kami berkeliling melewati beberapa bagian pameran dan sempat menonton film animasi di ruang auditorium. Anak-anak terlihat sangat antusias karena bisa melihat banyak miniatur kapal serta berbagai artefak maritim.

Dari Museum Bahari, kami menggunakan fasilitas buggy car gratis menuju Menara Syahbandar. Saya keceplosan pas mau naik nyebutnya “mobil golf” :b. Walaupun jaraknya sebenarnya cukup dekat, naik kendaraan kecil itu tetap menjadi pengalaman tersendiri bagi anak-anak.

Tangga Kayu Menara Syahbandar

Di area Menara Syahbandar terdapat dua bangunan. Namun, hanya satu menara di bagian depan yang bisa dimasuki dan dinaiki hingga ke atas. Bangunannya bercat putih, dengan kusen pintu dan jendela berwarna hijau toska serta merah.

Bagian dalam menara didominasi warna merah, mulai dari tangga hingga area paling atas. Tangga dan lantainya terbuat dari kayu. Lumayan juga perjuangan naik sampai ke atas, apalagi anak-anak meminta digendong karena takut mendengar derap kayu setiap kali kami melangkah. Mereka juga terlihat waswas melihat celah-celah di antara anak tangga. Mungkin takut tangganya roboh atau mereka terpeleset. Hohoho. Saran saya, walaupun misalnya anaknya berani naik sendiri, alangkah lebih baik sambil digandeng atau digendong karena banyak celah yang di tangga dan pinggir jendela.

Begitu sampai di atas, kami langsung disambut pemandangan dari berbagai sisi. Dari jendela bagian depan, kami bisa melihat kawasan pelabuhan. Dari jendela sebelah kanan, terlihat kali dengan air berwarna seperti kuah rawon, sampah, dan kemungkinan ikan sapu-sapu.

Angin yang masuk melalui jendela terasa sepoi-sepoi. Anak kedua saya tampak sangat menikmati pemandangan dari sana.

Setelah puas, kami turun dan kembali menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Waktu tempuh dari Menara Syahbandar ke Pelabuhan Sunda Kelapa hanya sekitar lima menit karena lokasi keduanya memang berdekatan.

Kembali ke Pelabuhan Sunda Kelapa

Kami masuk melalui gerbang parkir di sebelah gedung Pelindo. Begitu bertemu pertigaan, kami langsung berbelok ke kiri, lalu ke kiri lagi menuju area parkir.

Salah satu hal yang sempat membuat saya khawatir adalah apakah keputusan membawa anak-anak ke sini sudah tepat. Pelabuhan Sunda Kelapa masih merupakan pelabuhan aktif, sehingga banyak truk trailer yang hilir-mudik. Di sisi lain, saya benar-benar ingin mengajak anak-anak melihat kapal-kapal pinisi.

Saya masih ingat ketika pertama kali datang ke sini saat masih kuliah. Melihat deretan kapal besar tersebut dari dekat terasa begitu surreal.

Setelah memarkirkan mobil, awalnya kami ingin berjalan kaki menyusuri pinggir dermaga, seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu. Namun, jalan di sepanjang dermaga dipenuhi genangan air dan kondisinya sama sekali tidak nyaman untuk dilewati.

Saya pun mencoba mengedarkan pandangan. Di sekitar sana terlihat beberapa kelompok yang sedang mengikuti walking tour. Kami kemudian memperhatikan arah yang mereka tuju dan mengikuti area yang mereka lewati. Rupanya, mereka menuju sisi dermaga yang langsung menghadap ke laut, tempat kapal-kapal pinisi sedang bersandar.

Kondisi pelabuhan kini terasa cukup berbeda dibandingkan kunjungan saya dahulu di tahun 2017. Dulu, saya masih melihat banyak anak berenang di antara kapal-kapal pinisi.

Di Atas Perahu Kecil

Karena tidak memungkinkan untuk berjalan kaki lebih jauh, kami langsung menghampiri para pemilik perahu kecil di bibir dermaga. Kami ingin naik perahu dan berkeliling sebentar di sekitar pelabuhan.

Saya langsung menanyakan harganya. Setelah mengetahui bahwa kami berjumlah empat orang, bapak pemilik perahu menawarkan harga Rp100.000. Saya tidak menawar karena menurut saya harganya masih cukup masuk akal.

Awalnya, anak pertama saya tidak mau naik. Namun, setelah saya bujuk, beri semangat, dan yakinkan bahwa ia akan aman bersama kami, akhirnya ia bersedia. Begitu perahu mulai berjalan, ia justru terlihat senang dan antusias.

Karena area pelabuhan menyerupai kanal, air laut di bagian awal perjalanan cukup tenang sehingga perahu melaju dengan anteng. Meski begitu, saya tetap sempat khawatir. Pelabuhan ini masih aktif. Saya takut kami tercebur ke laut, atau, dalam pikiran yang semakin liar, ditipu lalu diceburkan ke laut.

Sempat jiper juga. Tapi saya beranikan diri karena belum tentu bisa ke sini lagi. Bisa jadi juga, di masa mendatang, kapal pinisi sudah tidak ada, diganti kapal yang lebih modern. Saya terus berdoa dalam hati agar perjalanan ini berlangsung aman dan menyenangkan.

Kami menyusuri tepian laut dengan pemandangan kapal-kapal pinisi besar yang terparkir gagah dengan posisi serong, lengkap dengan haluan runcingnya. Para buruh pelabuhan terlihat sibuk di atas kapal. Ada yang sedang mengangkut barang, ada yang beristirahat, dan ada pula kapal yang dihiasi jemuran pakaian milik para awaknya. Suasananya sungguh vibrant.

Setelah perjalanan yang tenang, perahu mulai berayun lebih kuat ketika kami semakin menjauh ke tengah. Saya mulai takut, tetapi tetap harus terlihat tenang karena anak-anak juga mulai gelisah.

Akhirnya, kami berputar kembali dan mengakhiri perjalanan. Singkat, tetapi sungguh berkesan!

Bendera-Bendera di Pasar Asemka

Tujuan berikutnya adalah Museum Mandiri di kawasan Kota Tua. Kami masuk melalui pintu parkir di sebelah Pasar Asemka. Kawasan pasar siang itu sungguh padat. Karena sudah memasuki bulan Agustus, banyak pedagang yang menjual berbagai pernak-pernik serta bendera Indonesia.

Dalam hati, saya tertawa kecut dalam hati melihatnya. Apakah masih ada yang ingin membeli bendera Indonesia di tengah keadaan yang terasa semakin morat-marit, amburadul, nggak jelas, seperti sekarang? Rasa nasionalisme saya rasanya sudah mulai mengering di dalam hati.

Beruntung sekali, begitu memasuki area parkir Museum Mandiri, masih tersisa satu tempat kosong tepat di bagian paling depan.

Karena anak-anak sudah mulai berdemo dan mengeluh lapar, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di kafe yang berada persis di dekat pintu masuk. Rasanya enak sekali bisa mengadem di dalam restoran sekaligus mengisi perut. Bersyukur banget!

Wara-Wiri di Museum Mandiri

Setelah tenaga kembali terisi, kami membeli tiket di loket yang berada di dekat pintu masuk parkiran. Harga tiketnya Rp5.000 untuk orang dewasa dan Rp3.000 untuk pelajar, mahasiswa, atau nasabah Bank Mandiri. Anak saya yang berusia tiga tahun masih bisa masuk secara gratis.

Di dalam museum, anak-anak wara-wiri dengan antusias. Ruangannya luas dan sejuk. Mereka juga penasaran melihat mesin-mesin perbankan lama, buku ledger berukuran besar, serta berbagai benda lain yang dipamerkan di sana.

Museumnya memang besar dan bagus. Saya pernah berkunjung sendirian beberapa tahun lalu, tetapi sampai sekarang masih tetap takjub. Saya bahkan sempat membayangkan, seandainya gedung ini masih aktif digunakan sebagai kantor, bangunannya tetap terasa sangat layak dan megah.

Bangunan-bangunan dari masa lampau memang sering kali mengagumkan, baik dari segi bentuk maupun kekokohannya.

Waktunya Pulang

Setelah selesai berkeliling, tenaga kami semua sudah hampir habis. Daripada memaksakan diri pergi ke Museum Bank Indonesia yang berada di sebelahnya, lalu menyeberang ke Toko Merah di bagian belakang, kami memutuskan bahwa mengakhiri petualangan hari itu adalah pilihan yang paling bijaksana.

Kami tiba kembali di rumah sekitar pukul 13.45 WIB. Hari masih cukup siang dan masih ada banyak waktu untuk beristirahat sebelum hari Minggu berakhir dan Senin kembali datang.

Semoga Menjadi Core Memory

Saya senang sekali melihat anak-anak menikmati perjalanan ini. Mereka bahkan menceritakan pengalaman-pengalaman tersebut kepada orang lain: pernah museum hopping, naik kereta untuk color hunting ke stasiun-stasiun dengan warna berbeda, naik bus, dan sekarang melihat kapal-kapal pinisi.

Tenang, Nak. Ibu akan mengajak kalian mengunjungi tempat-tempat lain yang tidak kalah menarik.

Semoga semua perjalanan kecil ini kelak menjadi core memory yang baik untuk kalian.