Senin pagi ini dimulai sejak subuh. Anak-anak masuk sekolah pukul 07.30, jadi saya sudah bangun dari pagi buta untuk memasak, menyiapkan bekal, seragam, dan segala keperluan mereka. Sekitar pukul 06.45 WIB kami berangkat dari rumah. Dengan waktu tempuh normal, seharusnya masih cukup luang.
Namun, baru keluar dari gerbang perumahan, kendaraan sudah berjajar panjang.
Saya sempat mengira antreannya akan segera bergerak. Ternyata satu jam lebih berlalu dan kami masih berkutat di area yang kurang lebih sama. Jalanan semrawut, kendaraan saling menyodok dari kanan dan kiri, sementara pengemudi yang sudah mengantre dengan benar justru terus dikalahkan oleh mereka yang merasa urusannya paling penting.
Persimpangan pun akhirnya terkunci dari semua arah.
Tentu saja, tidak ada lampu lalu lintas di sana. Pengaturan kendaraan sehari-hari diserahkan kepada Pak Ogah, orang yang berdiri di tengah jalan, mengatur kendaraan berdasarkan situasi, lalu mengharapkan uang dari pengendara. Sebuah sistem transportasi yang sangat modern: warga membayar pajak, tetapi untuk melewati persimpangan tetap harus mengandalkan pengatur jalan tidak resmi.
Entah pemerintah daerah memang tidak mampu memasang lampu lalu lintas, tidak mau menertibkan pungutan liar karena mungkin kongkalikong juga minta jatah, takut kepada kelompok yang menguasai lokasi, atau justru sudah terlalu nyaman membiarkannya. Sulit untuk tidak curiga ketika kekacauan yang sama berlangsung terus-menerus, tetapi tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Padahal masalahnya terlihat jelas. Persimpangan membutuhkan lampu lalu lintas dan pengaturan arus yang tegas. Pengemudi yang menyerobot harus ditindak, bukan dibiarkan sampai perilaku tersebut dianggap sebagai cara normal menggunakan jalan. Namun, ketika pemerintah tidak hadir, pengguna jalan akhirnya membuat aturannya sendiri: siapa yang paling nekat menyodok, dialah yang lebih dahulu lewat.
Akibatnya bukan sekadar orang terlambat bekerja atau bensin terbuang. Pagi itu, anak-anak saya sampai tidak bisa pergi ke sekolah.
Saat akhirnya kami berhasil keluar dari kemacetan, waktu masuk sudah terlewat terlalu jauh. Dengan berat hati saya memutuskan mereka tidak jadi masuk sekolah. Rasanya menyebalkan karena kami sudah bangun sejak subuh dan menyiapkan semuanya, tetapi seluruh usaha itu dikalahkan oleh satu persimpangan yang tidak becus dikelola.
Daripada langsung pulang dengan perasaan semakin dongkol, saya mengajak anak-anak ke Melody Lake, Gading Serpong. Setidaknya mereka bisa turun dari mobil, berlari-larian, dan menikmati pagi setelah hampir satu jam hanya duduk di tengah kemacetan.
Di sana mereka menyusuri jalan setapak, menyeberangi jembatan merah, melihat air mancur, mengintip danau dari balik pagar, masuk ke sebuah taksi kuning tua, serta mengumpulkan bunga-bunga yang sudah jatuh di atas rumput. Mereka saling menunjukkan hasil temuannya, mencium bunga, bergandengan tangan, lalu berlari lagi ke tempat lain yang menarik perhatian mereka.
Saya mengikuti dari belakang sambil memotret.
Ironisnya terasa sangat jelas. Setelah gagal menggunakan jalan umum yang seharusnya dikelola pemerintah dengan layak, kami justru mendapatkan ruang yang bersih, tertata, aman, dan manusiawi di kawasan milik swasta.
Bukan berarti ruang publik harus mewah. Warga hanya membutuhkan jalan yang diatur dengan benar, persimpangan yang aman, trotoar yang bisa digunakan, serta ruang terbuka yang tidak dibiarkan rusak atau dikuasai pungutan liar. Standarnya sebenarnya tidak tinggi. Namun, pelayanan dasar seperti itu pun sering terasa seperti permintaan yang terlalu muluk.
Pemerintah kerap meminta masyarakat tertib, tetapi infrastrukturnya tidak disiapkan. Meminta pengguna jalan disiplin, tetapi pelanggaran dibiarkan. Memungut pajak, tetapi ketika sebuah persimpangan membutuhkan pengaturan sederhana, warga disuruh bertahan sendiri di tengah kekacauan.
Senin pagi itu anak-anak tidak jadi sekolah bukan karena bangun kesiangan, bukan karena kami terlambat berangkat, dan bukan karena mereka malas. Mereka tidak sampai ke sekolah karena jalan menuju ke sana dibiarkan semrawut oleh pemerintah yang tidak mampu, atau mungkin, tidak berminat membereskannya.
Setidaknya pagi itu tidak sepenuhnya sia-sia. Setelah dipaksa menelan buruknya fasilitas umum yang dikelola pemerintah, kami masih bisa menikmati fasilitas milik swasta yang jauh lebih tertata dan masuk akal bagi manusia.
Foto-foto berikut adalah catatan dari Senin pagi yang gagal sampai ke sekolah, lalu berakhir dengan berjalan-jalan di Melody Lake.
Jam Operasional Melody Lake:
- Buka setiap hari:
- Pagi: 06:00 – 09:00 WIB
- Sore: 16:00 – 18:00 WIB

















