Suatu siang, setelah mengantar Bapak mertua ke rumah sakit, kami mampir sebentar di sebuah pasar di Kota Blitar yang saya tidak tahu namanya. Sebenarnya saya tidak punya rencana untuk jalan-jalan atau memotret apa pun. Saya hanya menunggu sebentar saat Bapak mertua membeli sesuatu.

Dari tempat kami parkir mobil, saya berjalan kaki ke Jl. Kacapiring karena sebelum parkir di pasar tadi, saya sempat melihat sebuah toko berwarna hijau dengan tulisan “Murni” di bagian atas temboknya. Rasanya familiar, karena saya pernah melihat salah satu kenalan di Instagram yang orang Blitar berfoto di depan toko itu.
Awalnya saya cuma ingin melihat toko itu dari dekat. Tapi seperti biasa, ketika sedang berjalan kaki dan tidak terlalu terburu-buru, tujuan awal jadi bergeser. Belum juga sampai ke toko yang saya cari, saya sudah berhenti beberapa kali.
Ada warung kecil berwarna ungu muda, dengan jendela terbuka dan barang-barang menggantung di bagian depan. Di dalamnya, seorang anak kecil tampak berada di antara tumpukan barang jualan. Dari luar, warung itu terlihat kecil dan padat, tapi terasa hidup.


Lalu saya melewati tempat potong rambut. Dari luar, ruangnya tampak sederhana: kursi, kaca, poster model rambut yang memenuhi dinding, motor yang terparkir di depan, dan seseorang yang sedang dicukur. Saya suka melihat tempat-tempat seperti ini, karena semuanya terasa apa adanya.
Di tempat cukur lain, saya sempat memotret bagian depannya yang bertuliskan “Potong Rambut Joker 88.” Kok kayak nama situs web judol (judi online), ya? Hohoho. Di atasnya, deretan foto model rambut ditempel memenuhi dinding. Lucu juga melihat bagaimana sebuah tempat kecil bisa menyimpan begitu banyak referensi gaya, dari potongan anak-anak sampai model rambut yang kelihatan seperti diambil dari berbagai belahan internet. Dari kejauhan melihat tempat cukur rambut ini, saya langsung tertarik karena kacanya lebar dan kinclong.


Setelah itu, saya menemukan toko pracangan dan sayur. Ada sayuran hijau tersusun di depan, plastik-plastik menggantung, spanduk besar, orang yang sedang mengambil sesuatu, dan penjual yang duduk di dalam toko. Orang datang, memilih, membayar, lalu pergi.
Di sudut lain, seorang perempuan paruh baya duduk di antara buah salak, kain peneduh, terpal, dan barang-barang yang menumpuk. Sepertinya Ibu tersebut sedang menunggu pembeli. Semoga laris manis tanjung kimpul, ya, bu!


Lalu, di ujung jalan, saya melihat struktur besi melintang di atas jalan. Awalnya saya pikir itu semacam jembatan biasa. Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah rel kereta ap. Saya langsung periksa di Google Maps ternyata namanya Viaduct Stasiun Blitar. Kereta lewat rendah di atas jalan, sementara di bawahnya mobil dan motor tetap melintas seperti biasa. Ada kabel-kabel menggantung, palang batas tinggi, dan bayangan siang yang jatuh di aspal. Bagi saya pemandangan tersebut menarik karena baru pertama kali lihat.
Saya juga memotret seorang laki-laki yang duduk di balik sangkar burung. Wajahnya hampir tertutup oleh sangkar di depannya. Foto itu terasa sedikit ganjil, tapi justru saya suka.
“God loved the birds and invented trees. Man loved the birds and invented cages.” — Jacques Deval

Siang itu hanya jalan-jalan sebentar, tetapi menemukan banyak “potongan” baru. Dari satu toko jadi berkenalan dengan satu jalan bernama Kacapiring.
Semua foto diambil menggunakan iPhone 17.
